*
Juli, 1976, mobil kepresidenan Uganda beserta rombongan kecil pengawal memasuki bandara Entebbe, Uganda yang saat itu tengah terjadi krisis insiden internasional. Insiden pembajakan sebuah pesawat udara, yang menyandera kurang lebih 100 penumpang selama kurang lebih tujuh hari.
Selang beberapa jam setelah mobil rombongan kepresidenan memasuki bandara, terjadi baku tembak selama kurang dari satu jam. Sebanyak 45 tentara Uganda dilumpuhkan dan sandera berhasil diselamatkan oleh satu unit kecil pasukan elit Israel.
Kunci dari keberhasilan operasi ini adalah informasi (intelijen).
Sebelumnya pasukan elit Israel telah memiliki dan mempelajari denah bandara Entebbe, dan membuat tiruan mobil kepresidenan Uganda yang digunakan untuk memasuki bandara dan mengelabui pasukan penjaga.
Informasi adalah satu faktor penting dalam memenangkan sebuah pertempuran.
Sebagaimana kisah tadi, tubuh kita mengalami hal yang serupa. Tahukah anda bila terdapat dua intelijensi dalam tubuh kita ?
Intelijensi pertama, ada di bagian kepala kita, tepatnya di bagian otak. Intelijensi ini bertugas merespon dan mengatur segala yang datang dari luar ke dalam tubuh kita. Baik itu berupa fisik maupun non-fisik, seperti makanan, ilmu pengetahuan, obat-obatan, suara, gambar, suplemen, nutrisi dan lain sebagainya.
Intelijensi kedua, di mana letaknya ?
Persisnya ada pada sel imun, atau sel kekebalan yang ada di dalam tubuh kita. Dalam istilah lain, sel imun ini disebut sebagai Natural Killer (NK), sang pembasmi alami. Disebut demikian karena sel imun ini hanya diproduksi di dalam tubuh manusia dan tugasnya adalah menyerang dan mematikan biotik-biotik merugikan yang masuk ke dalam tubuh, seperti virus dan bakteri dan sejenisnya yang berpotensi menimbulkan penyakit.
Singkat kata, sel imun dalam tubuh kita sesungguhnya juga berpikir.
Cara kerja NK bisa diibaratkan seperti sebuah pasukan militer, ia akan bekerja berdasarkan informasi/intelijen yang tepat. Seakan ada dua ”otak” yang bekerja dalam satu tubuh kita, kemampuan sel NK dalam mengenali musuh (virus, bakteri) akan memicu aksi mereka berikutnya dalam membasmi cikal bakal penyakit. Mereka hanya bekerja berdasarkan informasi.
Dari mana sel imun atau NK ini memperoleh informasi ?
Oleh karena informasi ini tidak diproduksi dari dalam tubuh seperti halnya sel imun. Tugas ’otak’ pertama-lah untuk mendatangkan informasi ini dari luar kepada sel imun. Vaksin-vaksin imunisasi yang diberikan kepada bayi , yang berupa virus atau bakteri yang sudah dilemahkan, pada hakikatnya adalah sebuah informasi mengenai jenis-jenis virus dan bakteri. Informasi ini diperoleh dari luar tubuh dan diberikan via suntik atau oral.
Proses imunisasi ini ibarat sebuah briefing sebelum pertempuran yang memperkenalkan kepada sel imun tentang bagaimana bentuk, rupa dan prilaku musuh (virus, bakteri) agar kelak bila datang ancaman/gangguan sel imun dapat segera mengenali dan mengidentifikasi musuh, dan memutuskan untuk menyerang lawan.
Pakar-pakar kesehatan selalu menganjurkan kita untuk berolah raga yang teratur dan rutin mengkonsumsi zat-zat vitamin, yang berguna untuk meningkatkan daya tahan sel imun. Pola makan yang teratur dan gizi yang cukup berguna untuk meregenerasi sel-sel tubuh kita.
Namun kedua hal tersebut tidak serta merta menjamin kepiawaian sel imun kita dalam melawan penyakit. Seorang yang tidak pernah mendapat vaksin tetanus, meski dalam keadaan bugar dan prima, apabila ia terluka dan terinfeksi dapat menyebabkan kematian dalam sekejap. Hal ini terjadi sebab sel imun tubuh yang sudah siap (stand by) di dalam tubuhnya tidak mampu mengenali dan tidak mampu mengidentifikasi penyakit, dan menjadikan mereka sepasukan besar yang bodoh (pasif).
Vaksin-vaksin imunisasi yang diberikan kepada bayi pun semakin up date, tidak sesederhana di masa-masa sebelumnya. Kebutuhan jenis vaksin yang baru muncul seiring dengan semakin kompleks dan semakin modernnya jenis-jenis virus dan bakteri.
Bila kian waktu jenis penyakit kian berkembang, maka apakah proses vaksinasi dan imunisasi hanya cukup dengan apa yang kita terima semasa bayi dan kanak-kanak ?
Sebagaimana kisah penyerbuan di awal narasi ini, sejumlah besar pasukan Uganda yang menjaga bandara Entebbe pada akhirnya lumpuh oleh satu unit kecil pasukan elit lawan hanya karena satu hal, pasukan Uganda gagal dalam mengidentifikasi lawan. Dan faktor tidak adanya informasi tentang lawan adalah penyebab fatal kekalahan mereka.
Kelak kita akan mengenali penyakit dengan cara mengenal prilaku sel imun tubuh kita lebih dalam.
”Mengenali diri dan sekaligus mengenali lawan, maka tak perlu khawatir akan akhir dari seratus pertempuran” – sun tzu-
Tubuh anda tidak membutuhkan obat untuk bertahan, yang diperlukan hanyalah informasi. bersambung
Klik > ke bagian 3

Entebbe, Uganda

Suasana pembebasan sandera, Entebbe, Uganda, 1976
Molekul Kecerdasan Immun Pertama di Dunia. Revolusi Kesehatan & Science > Transfer Factor 4Life Research

