SEL IMUN DALAM TUBUH KITA JUGA BERPIKIR (Kenali Kecerdasan Kedua Dalam Tubuh Anda)

28 10 2009

*
Juli, 1976, mobil kepresidenan Uganda beserta rombongan kecil pengawal memasuki bandara Entebbe, Uganda yang saat itu tengah terjadi krisis insiden internasional. Insiden pembajakan sebuah pesawat udara, yang menyandera kurang lebih 100 penumpang selama kurang lebih tujuh hari.

Selang beberapa jam setelah mobil rombongan kepresidenan memasuki bandara, terjadi baku tembak selama kurang dari satu jam. Sebanyak 45 tentara Uganda dilumpuhkan dan sandera berhasil diselamatkan oleh satu unit kecil pasukan elit Israel.
Kunci dari keberhasilan operasi ini adalah informasi (intelijen).

Sebelumnya pasukan elit Israel telah memiliki dan mempelajari denah bandara Entebbe, dan membuat tiruan mobil kepresidenan Uganda yang digunakan untuk memasuki bandara dan mengelabui pasukan penjaga.

 

Informasi adalah satu faktor penting dalam memenangkan sebuah pertempuran.

 

Sebagaimana kisah tadi, tubuh kita mengalami hal yang serupa. Tahukah anda bila terdapat dua intelijensi dalam tubuh kita ?

 Intelijensi pertama, ada di bagian kepala kita, tepatnya di bagian otak. Intelijensi ini bertugas merespon dan mengatur segala yang datang dari luar ke dalam tubuh kita. Baik itu berupa fisik maupun non-fisik, seperti makanan, ilmu pengetahuan, obat-obatan, suara, gambar, suplemen, nutrisi dan lain sebagainya.

 

Intelijensi kedua, di mana letaknya ?

Persisnya ada pada sel imun, atau sel kekebalan yang ada di dalam tubuh kita. Dalam istilah lain, sel imun ini disebut sebagai Natural Killer (NK), sang pembasmi alami. Disebut demikian karena sel imun ini hanya diproduksi di dalam tubuh manusia dan tugasnya adalah menyerang dan mematikan biotik-biotik merugikan yang masuk ke dalam tubuh, seperti virus dan bakteri dan sejenisnya yang berpotensi menimbulkan penyakit.

Singkat kata, sel imun dalam tubuh kita sesungguhnya juga berpikir.

Cara kerja NK bisa diibaratkan seperti sebuah pasukan militer, ia akan bekerja berdasarkan informasi/intelijen yang tepat. Seakan ada dua ”otak” yang bekerja dalam satu tubuh kita, kemampuan sel NK dalam mengenali musuh (virus, bakteri) akan memicu aksi mereka berikutnya dalam membasmi cikal bakal penyakit. Mereka hanya bekerja berdasarkan informasi.

 

Dari mana sel imun atau NK ini memperoleh informasi ?

Oleh karena informasi ini tidak diproduksi dari dalam tubuh seperti halnya sel imun. Tugas ’otak’ pertama-lah untuk mendatangkan informasi ini dari luar kepada sel imun. Vaksin-vaksin imunisasi yang diberikan kepada bayi , yang berupa virus atau bakteri yang sudah dilemahkan, pada hakikatnya adalah sebuah informasi mengenai jenis-jenis virus dan bakteri. Informasi ini diperoleh dari luar tubuh dan diberikan via suntik atau oral.

Proses imunisasi ini ibarat sebuah briefing sebelum pertempuran yang memperkenalkan kepada sel imun tentang bagaimana bentuk, rupa dan prilaku musuh (virus, bakteri) agar kelak bila datang ancaman/gangguan sel imun dapat segera mengenali dan mengidentifikasi musuh, dan memutuskan untuk menyerang lawan.

 

Pakar-pakar kesehatan selalu menganjurkan kita untuk berolah raga yang teratur dan rutin mengkonsumsi zat-zat vitamin, yang berguna untuk meningkatkan daya tahan sel imun. Pola makan yang teratur dan gizi yang cukup berguna untuk meregenerasi sel-sel tubuh kita.

Namun kedua hal tersebut tidak serta merta menjamin kepiawaian sel imun kita dalam melawan penyakit. Seorang yang tidak pernah mendapat vaksin tetanus, meski dalam keadaan bugar dan prima, apabila ia terluka dan terinfeksi dapat menyebabkan kematian dalam sekejap. Hal ini terjadi sebab sel imun tubuh yang sudah siap (stand by) di dalam tubuhnya tidak mampu mengenali dan tidak mampu mengidentifikasi penyakit, dan menjadikan mereka sepasukan besar yang bodoh (pasif).

Vaksin-vaksin imunisasi yang diberikan kepada bayi pun semakin up date, tidak sesederhana di masa-masa sebelumnya. Kebutuhan jenis vaksin yang baru muncul seiring dengan semakin kompleks dan semakin modernnya jenis-jenis virus dan bakteri.

 

Bila kian waktu jenis penyakit kian berkembang, maka apakah proses vaksinasi dan imunisasi hanya cukup dengan apa yang kita terima semasa bayi dan kanak-kanak ?

Sebagaimana kisah penyerbuan di awal narasi ini, sejumlah besar pasukan Uganda yang menjaga bandara Entebbe pada akhirnya lumpuh oleh satu unit kecil pasukan elit lawan hanya karena satu hal, pasukan Uganda gagal dalam mengidentifikasi lawan. Dan faktor tidak adanya informasi tentang lawan adalah penyebab fatal kekalahan mereka.

Kelak kita akan mengenali penyakit dengan cara mengenal prilaku sel imun tubuh kita lebih dalam.

”Mengenali diri dan sekaligus mengenali lawan, maka tak perlu khawatir akan akhir dari seratus pertempuran” – sun tzu-

Tubuh anda tidak membutuhkan obat untuk bertahan, yang diperlukan hanyalah informasi. bersambung 
Klik > ke bagian 3

 

enteb view

Entebbe, Uganda

entebe sandera

Suasana pembebasan sandera, Entebbe, Uganda, 1976

Molekul Kecerdasan Immun Pertama di Dunia. Revolusi Kesehatan & Science > Transfer Factor 4Life Research





Your DOCTOR in a Bottle … Kesehatan Alami dan Mendasar

28 10 2009

tf plus pil

Transfer Factor Formula, zat kesehatan alami meningkatkan kekebalan tubuh dari 283% hingga 437%

“Bukan manusia jika tidak mengalami sakit…. satu botol Transfer Factor, hemat biaya dan ongkos ke dokter. Satu botol Transfer Factor, hindari dokter dan segala khawatirannya”

TRANSFER FACTOR

Adalah zat atau molekul yang terdapat di dalam inti kolostrum mamalia menyusui atau di dalam kuning telur, yang di dalam molekul itu terdapat informasi ratusan ribu jenis virus, kuman, bakteri, jamur dan patogen. Informasi ini akan ditransfer ke dalam tubuh manusia dan diterima oleh sel kekebalan tubuh (sel imun) sehingga sel imun yang telah menerima Transfer Factor mampu mengenaliratusan ribu jenis virus dan bakteri untuk mengidentifikasi dan menyerang cikal bakal penyakit.

TRANSFER FACTOR adalah Pembina Kecerdasan Sel Imun (Immune IQ) Pertama dan Terunggul di Dunia.

TRANSFER FACTOR 4LIfe Research, suatu lompatan revolusioner dalam bidang kesehatan alami.

*

When your immune system works hard, you are able to work & play hard

Kenali Transfer Factor Lebih Dalam > TRANSFER FACTOR 4LIFE RESEARCH





Thermopylae, Sparta dan Cerita Immun Tubuh Manusia

28 10 2009

*

Tahun 480 sebelum masehi, 300 orang tentara terpilih dari Sparta, Yunani berkumpul di celah sempit Thermopylae (The Hot Gate – gerbang panas) dalam rangka menghadang serangan dari bala tentara Persia yang berjumlah sekitar 1 juta orang lebih yang bertujuan menyerang negeri Yunani.

Strategi celah sempit ini digunakan karena keterbatasan personil pasukan Sparta yang tidak sebanding dengan jumlah pasukan musuh. Alhasil, 300 tentara Sparta berhasil menahan dan menguras tenaga pasukan Persia selama 3 hari di celah itu meskipun pada akhirnya pasukan Sparta pun kalah.

 

Kombinasi antara celah sempit dan jumlah pasukan yang minimum itu mengingatkan kepada struktur tubuh & sel tubuh manusia. Bila celah Thermopylae itu diibaratkan sebagai organ tubuh, pasukan Sparta itu ibarat sel daya tahan tubuh-nya (sel imun, sel kekebalan tubuh).

Kisah heroik di atas mengilustrasikan bagaimana sel imun manusia yang terbatas ini bekerja sama dengan organ-organ tubuh untuk melindungi kesehatan dan keberlangsungan hidup tubuh secara keseluruhan.

 

Coba bayangkan, apa yang terjadi jika 300 pasukan Sparta yang terlatih dan gagah berani itu bersiaga di celah thermopylae dalam keadaan bodoh & tidak tahu apa-apa ? tak perlu waktu tiga hari dan tak perlu susah payah musuh melewati celah itu. Sekalipun jumlah pasukan Sparta ditambah dan tetap dalam keadaan sama, sepertinya tetap bukan masalah besar bagi musuh.

Keadaan bodoh ini bisa terjadi karena tidak adanya garis komando, pasukan tidak mengenal siapa musuhnya yang harus diserang, yang berdampak pasukan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Meskipun faktor fisik, seperti celah thermopylae itu perlu namun tidak kalah sangat penting adalah faktor sel imun (pasukan) itu sendiri.

 

“a man with briefcase can steal more than a hundred men with guns”,
seseorang yang pintar bisa mencuri lebih banyak dari ratusan orang yang bersenjata

 

Faktor informasi sangat menentukan akan terjadinya kemenangan atau kekalahan di setiap pertempuran. Demikian juga dengan sel imun tubuh kita, ternyata mereka berprilaku sama dengan pasukan dalam pertempuran : mereka membutuhkan informasi !

Sel imun dalam tubuh manusia membutuhkan informasi untuk dapat melakukan job desk-nya melindungi organ tubuh dari penyakit.

 

Sejak kapan informasi itu diberikan kepada sel imun tubuh ?

Sejak dua hari pertama ketika sang bayi keluar dari rahim ibu, informasi tersebut ditransfusikan via ASI (air susu ibu – dua hari pertama) kepada sang bayi. Ciri-cirinya adalah warna ASI yang kuning keruh. Sel imun bayi pertama kalinya menerima informasi yang semula terkandung dalam sel imun ibu.

Sesudahnya, sang bayi dapat menerima informasi lain yang telah dikembangkan oleh teknologi medis via vaksinasi atau umum disebut imunisasi, yang ditransfusikan baik dengan cara oral/tetes dan suntik.

Saat beranjak anak-anak dan remaja, proses transfer informasi masih berlanjut. Salah satunya adalah vaksin tetanus.

 

Yang menjadi pertanyaannya adalah..

Jika sedemikian rutin sel imun kita menerima informasi semenjak bayi, lalu bagaimana caranya penyakit masih bisa menyerang tubuh kita ?

Apakah imunisasi terhenti ketika di usia anak-anak dan remaja, sementara jenis penyakit makin berkembang ?

 

Apa sesungguhnya informasi yang ditransfusikan ke sel imun itu ?

Kekalahan pasukan Sparta di celah Thermopylae bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan pasukan, tetapi disebabkan oleh satu hal yang sudah umum terjadi di dalam perjuangan, yaitu penghianatan. Seseorang Sparta bernama Ephialtes telah berkhianat dan membocorkan rahasia jalan belakang celah Thermopylae kepada musuh.

Kalau begitu apakah ada ‘penghianat’ di dalam tubuh manusia ? bersambung 

 Klik > ke bagian 2 : Sel Imun Dalam Tubuh Kita Juga Berpikir

lokasi thermopylae

Lokasi pertempuran, celah Thermopylae, Yunani

 

Molekul Kecerdasan Sel Immun. Revolusi Kesehatan & Science >Transfer Factor 4Life Research








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.